Seni atau System

sempat aku bertanya untuk apa aku sekolah? dari kecil sejak umur 6 tahun sampai saat inipun aku masih sekolah. yaa sudah lebih dari 15 tahun aku sekolah dari Sekolah Dasar hingga bangku kuliah, yang saat ini aku jalani. dari beberapa tingkatan aku menjalani sekolah yang ditempuh selama bertahun-tahun dan banyak sekali peraturan-peraturan yang menjeratku dan tugas-tugas membebaniku, tapi apa? ilmu, yang menjadi harapan bisa aku miliki dan bisa berguna menuntun jalan hidupku ternyata tak pernah aku dapat dari bangku sekolah. bagiku hanya ada dua bagian dari sekolah, yang pertama, sekolah hanyalah system yang membuat orang terikat dalam mencari ilmu, ibaratnya kita sekolah seperti bayi yang baru lahir. pertama kita harus minum air susu ibu (ASI) untuk beberapa minggu, itulah tahapan Sekolah Dasar (SD). ketika kita menginjak usia balita kita diasupi bubur tidak boleh makanan kasar, itulah tahapan kita menempuh Sekolah menengah pertama (SMP). dan ketiga kita baru boleh makan nasi tapi masih belum boleh makan semua jenis makanan, dan itulah masa Sekolah menengah atas (SMA). ketika ketiga system dasar itu sudah ditempuh baru kita bisa memilih mau makan apa dan sebanyak apa kita makan, itulah bangku kuliah. namun kita masih belum bebas kita masih dijerat dengan “cara makan” itulah system yang ada dibangku kuliah. kita boleh memilih ilmu apa aja atau bahkan mau mempelajari semua ilmu nsesuai dengan minat dan kemampuan kita. tapi kita tetap tidak boleh sembarangan dalam mempelajarinya karena masih ada system dalam kuliah. kuliah, kita boleh belajar apa aja kapan aja tapi kita harus tetap masuk ruang kelas untuk mengisi absensi dengan tanda tangan, itulah system dibangku kuliah.

`Bagiku ruang kelas sudah menjadi jeruji yang sejak kecil mengurung jalan hidupku. halaman sekolah kadang hanya menjadi area pertemuan antar aku dan teman-teman setiap harinya dan bahkan semua pojok-pojok gedung yang ada dalam lingkungan sekolah hanya sebagai saksi bisu perlawanan aku dan teman-teman pada yang namanya system dalam sekolah. hal-hal seperti itu bukanlah bentuk kenakaln remaja menurutku. tapi semua hanya protes terhadap terhadap system. tak ada perlawanan yang bisa banyak dilakukan karena system akan membunuh nama kita bila kita protes. memang pada akhirnya semua system sekolah tidak bisa terkalahkan oleh kita. namun bukan berarti kita yang kalah karena tunduk dan hanya melakukan protes yang sepeti itu pada system. aku yakin tak jarang orang yang punya pemikiran seperti aku bahkan pernah mengalami dan melakukan.

Yang kedua, sekolah hanyalah loyalitas yang tujuannya untuk bisa menempuh kehidupan yang dianggap sukses bila berhasil mengikuti system. loyalitas untuk mendapatkan selembar kertas “ijazah” lalu dikatakan berhasil, kemudian menempuh system yang selanjutnya. nah dari sini apakah kita tidak berpikir? dikatakan berhasil tapi masih belum sukses. berarti orang yang berhasil dalam sekolah atau kalah terhadap system “aku menyebutnya”  belum tentu sukses. tidak bisa dipungkiri bahwa tujuan sesorang dalam pendidikan adalah untuk menjadi orang sukses, ketika orang sukses berati dia telah berhasil. namun orang yang berhasil dalam pendidikan atau kalah terhadap system “aku menyebutnya” belum tentu sukse didunia luar atau dalam berkarir. sekolah memang loyalitas belaka dijaman yang serba moden seperti ini. seandainya semua kebutuhan SDM di negri ini sleksinya diukur dari kemampuan pasti negri ini akan damai, sayanya semua dinegri ini hanya diukur dari selembar kertas “ijazah”. jadi mau atau tidak aku dan teman-teman yang sepaham dengan aku harus mengikuti system terlebih dahulu karena untuk mendapatkan selembar “ijazah”. jadi tidak salah bila aku menyebut sekolah hanyalah loyalitas untuk mendapat selembar “ijazah”.

Ram Ramdani adalah sepotong kata dari Rahman Ramdani, ini aku lakukan agar lebih gampang untuk diucapkan oleh teman-teman, selain itu nama “ram” juga dikenal oleh kanca seniman film yaitu “Raam Punjabi” yaa…walaupun beda dari segi ejaan paling tidak pelafalannya agak sama lah, dan semoga pelafalan jalan hidup ku sama seperti beliau, karena aku juga senang dan tertarik dalam dunia film. aku juga pernah memproduksi film dan Alhamdulillah bisa dikatakan sukses untuk film yang perdana yang aku rilis tahun 2010 bersama teman-teman COMET. tulisan ini hanya pengalaman mengenai perasaan yang aku rasakan. dan semoga bisa jadi cerminan yang baik. jika ada yang sepaham atau tidak mohon dikomentari.

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s