Sastra

Sastra Sebagai Salah Satu Bagian Seni

benar jika dikatakan bahwa sastra adalah seni, tapi lebih benar lagi jika disebut bagian dari seni. Mengapa saya mengatakan bagian dari pada seni, karena seni memiliki sekian banyak jalur dan medium untuk diekspresikan.

Berbicara mengenai seni, pernah terjadi perbedaan pendapat antara Plato dan Aristoteles. Menurut Plato, nilai karya seorang tukang lebih tinggi dibandingkan nilai karya seorang seniman. Plato berargumen bahwa seorang tukang berkarya sesuai dengan kemutlakan benda-benda dalam kenyataan. Sedangkan karya seorang seniman, menurut Plato senantiasa meniru kenyataan, sehingga secara hierarkis karya seniman berada di bawah kenyataan. Sedangkan tukang menciptakan sesuatu yang nyata dalam keadaannya.

Plato berpikir bahwa seniman menuruti emosi/nafsu yang mesti dikekang. Sedangkan tukang menciptakan karyanya berdasarkan teknik. Aristoteles kemudian mengatakan hal yang bertentangan, menurut Aristoteles seniman tidak meniru kenyataan, melainkan menciptakan dunianya sendiri. Karya seni bisa menyebabkan suatu penyucian bathin penikmat seni, dalam istilahnya Aristoteles menyebut proses penyucian jiwa lewat seni ini disebut Katharsis.

Karya sastra sebagai karya seni tidak sepenuhnya meneladani kenyataan, tetapi menciptakan dunianya sendiri. Seorang sastrawan menciptakan suatu dunia fiksi, jalur pengembaraan dalam dunia tersebut adalah bahasa dan pilihan kata yang digunakan. Sebagaimana seperti yang saya katakan, bahwa bahasa sebagai sistem tanda (semiotik), setiap kata yang terdengar atau terbaca, memberikan kita suatu rujukan dalam pikiran kita tentang realitas. Pengembaraan dalam karya sastra bersifat imajinatif, artinya image kita berperan dalam menelusuri dunia karya tersebut. Dalam istilah sastra disebut Heterokosmos (sastra sebagai dunia dalam kata).

Kita membaca sebuah novel misalnya, dalam pembacaan itu kita senantiasa berimajinasi, seolah-olah kita melihat kejadian yang ada dalam novel tersebut, kita merasa terlibat, sedih, gembira, terharu, penasaran, marah dan sebagainya. Secara psikologis, pembacaan sastra yang berhasil adalah yang berkesan pada perasaan kita, dan itulah yang disebut sebagai pemuasan estetis.

Kata seni, memiliki dua arti. Kita lihat dalam bahasa Inggris seni disebut Art. Kata Art ini berasal dari bahasa Yunani Ars, yang artinya tidak lebih dari ‘Teknik’. Sehingga seni tidak selamanya berarti ‘keindahan’. Tetapi kepandaian dan kemahiran. Lihatlah dalam disiplin militer, ada seni perang, seni tempur, ada seni membunuh, ada seni beladiri yang di dalamnya tidak terdapat pemuasan estetis.

Keindahan adalah arti kedua dari ‘seni’. Artian ini bertolak dari ungkapan Aristoteles bahwa seniman itu merupakan titisan dewa/dewi keindahan yang disebut Muse. Sehingga karya para seniman itu di nilai indah, berikut juga arti seni itu sendiri mengalami pergeseran dari teknik menjadi keindahan. Namun dalam konteks lain, kata seni juga digunakan sebagai arti teknik.

Demikian pula sastra atau karya sastra, proses penciptaannya membutuhkan kemahiran tertentu, dalam hal ini kemahiran dalam memilih dan merangkai kata untuk menggambarkan suatu keadaan. Dikatakanlah bahwa karya sastra merupakan bagian dari seni, karena dibangun berdasarkan teknik dan mengandung nilai edukasi, etika dan estetika.

Kita bisa membedakan, bahwa seniman yang bergelut dengan huruf adalah sastrawan, seniman yang bergelut dengan tinta dan kanvas adalah pelukis, seniman yang bergelut dengan nada dan irama adalah musisi. Tetapi dalam menikmati karya mereka semua, kita merasakan kepuasan seni yang sama, karena berasal dari suatu sifat yang sama, yakni seni sebagai keindahan.

Memang ada beberapa karya sastra yang menyebabkan gejolak sosial dan perubahan kepribadian secara individual, ini disebabkan karena para penikmat terdoktrin melalui proses edukasi di dalam karya sastra tersebut. Hal ini tidak berarti memupus nilai keindahan atau nilai seni dari karya sastra, tetapi justru merupakan bukti bahwa karya sastra memiliki potensi yang sangat kuat. Dan bukan saja karya sastra, karya seni yang lain pun demikian.

Iklan

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s