Praktek Media Sosial dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

 

Pada dasarnya, setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini berada pada konteks media sosial. Sekilas terlihat bahwa kehadiran media sosial seperti facebook, twitter, blog dan linkedIn memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap individu (user) untuk berkreasi, khususnya dalam menampilkan diri masing-masing. Oleh karena itu tulisan ini bertujuan untuk mengurai cara presentasi diri yang dilakukan oleh pengguna melalui beberapa media sosial yang ada.

Ada berbagai jenis penampilan diri yang bisa terlihat secara kasat mata yaitu menuliskan kata-kata bijak di status maupun di tweets, menyampaikan kritik, mengkomunikasikan kondisi pribadi saat ini, menyampaikan aktivitas dan lokasi saat ini, dan berbagai cara lainnya. Selain kata-kata, presentasi diri juga dikombinasi dengan video, gambar dan foto seperti foto-foto diberbagai lokasi, foto bersama figur publik: seperti pejabat negara, pakar atau ahli, aktor/aktris dan foto hasil karya sendiri. Berbagai jenis ekspresi yang dilakukan oleh pengguna (user) media sosial akan mengkerucut pada jenis-jenis strategi presentasi diri.

Kondisi ini terlihat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi adanya new media, khususnya media sosial.yang menjadi trend baru dalam new media dewasan ini. Ruang untuk mempresentasikan diri belum bisa dijangkau secara bebas oleh setiap orang. Dengan demikian, kehadiran media sosial, yang membuat setiap pengguna menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, meningkatkan variasi atau memberikan ruang yang luas dalam presentasi diri.

Bagi pengguna media sosial, memeriksa akun media sosial adalah sebuah aktivitas yang lazim dilakukan. Namun, ketika pengguna menata akun media sosial, yang pengguna lakukan sebenarnya sedang menata wajah atau penampilannya di dunia maya. Ketika melakukan penataan terhadap tema atau warna halaman depan di media sosialkita, maka kita seakan-akan sedang memilih pakaian yang mana atau warna apa yang cocok dengan diri sendiri. Begitu pula dengan ketika pengguna hendak melakukan pembaharuan status atau menulis di akun media sosial, maka pengguna pun mengalami proses selayaknya ingin mengungkapkan sesuatu kepada lawan bicara yang sedang ada di depan kita. Apalagi, bagi pengguna yang menyadari bahwa audiensi (atau pengguna lainnya) tidak hanya satu atau dua orang melainkan berpotensi sangat banyak (selayaknya sekumpulan massa). Penataan media sosial akan menjadi sebuah tindakan yang tidak serta Erta spontan, tetapi melalui sebuah ‘meja editorial’ di dalam dirinya sendiri.

Setiap orang memiliki harapan untuk bisa menjadi sebuah sosok impian. Sosok impian yang bisa saja berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri, karena melihat-lihat kondisi sekitarnya, atau berdasarkan konstruksi pribadi. Berdasarkan figur impiannya tersebut, setiap individu akan menata dirinya dengan berbagai cara baik itu dari cara berbicara, pemilihan kata-kata, cara berpakaian, peralatan teknologi yang dimiliki, teman atau kelompok yang dipilih, kegiatan yang diikuti, dan tempat makan/minum yang dipilih. Bagi seorang anak muda yang sangat memimpikan untuk menjadi seperti sosok artis tertentu, maka dia akan menata dirinya baik itu pakaian, kata-kata, dan berbagai elemen untuk mencapai figur tersebut. Bagi seorang yang ingin menampilkan diri sebagai seorang profesional muda, maka tentulah dia akan menata dirinya sesuai dengan sosok profesional muda yang dia harapkan. Singkatnya, hampir semua wadah bisa dipakai oleh setiap individu untuk melakukan penataan terhadap dirinya. Dengan demikian, ketika media sosial hadir, maka media sosial pun bisa digunakan sebuah wadah untuk melakukan penataan diri.

Terlepas dari adanya pro dan kontra kehadiran media sosial, media sosial bisa difungsikan sebagai revitalisasi hubungan sosial Siantar sesama pengguna. Media sosial bisa menjadi tempat bertemu secara maya untuk keluarga, sahabat, atau kolega yang terpisah jarak dan waktu. Media sosial bisa menjdai ‘rumah’ atau ‘ruangan’ untuk melakukan suatu interaksi satu sama lain. Adanya media sosial membuka kesempatan untuk setiap individu bisa menjadi pengirim sekaligus penerima. Hanya dengan bermodalkan akses ke dunia maya, lalu membuat akun di penyedia jasa media sosial, maka setiap individu sudah memiliki sebuah media yang bersifat one-to-many.

Kehadiran media sosial tidak berbayar, yang sekarang sudah sangat bervariasi, membuat pengguna media sosial menjadi sosial suatu praktek yang lumrah. Tanpa memerlukan keahlian khusus bahas pemograman, memanfaatkan media sosial menjadi sangat mudah (usir friendly). Sehingga hampir semua kalanggan pun menjadi familia dengan media sosial ini. Pemilik warung kopi bisa memperbaharui status bahwa pukul 13.00 buka, seorang siswa SD bisa memperbarui statusnya sedang bermain bola, srtis bisa memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, ada figur-figur tertentu yang yang memberikan informasi terkait pemerintah yang jarang diungkapkan di media, politisi juga bisa memperpanjang jaring aspirasinya, pemain sepak bola bisa melakukan jumpa penggemar, dan berbagai kalangan lainnya. kemuktahiran teknologi media sosial di sisi konvergensi media, hyperteks, dan simulasi membuat media sosial ini semakin diminati. Bahkan, Mobile application untuk media sosial ini membuat setiap orang bisa menggunakan Diana saja dengan bermodalkan telepon seluler (termasuk smartphone) sepanjang ada jaringan.

Beragam praktek bisa dilakukan oleh setiap individu terhadap media sosial, namun yang perlu kembali diperhatikan adalah media sosial itu bisa diaggap sebagai ‘rumah’ atau diri sendiri di dunia maya. Setidaknya perkembangan teknologi sampai saat ini memungkinkan kehadiran pengguna di media sosial hanya masih sebatas representasi dirinya (terkadang dipakai istilah virtual self, digital me, virtual me,virtual identity ), belum sampai pada level diri seutuhnya yang berada di dalam media sosial.

Tentunya berbagai kajian mengenai fenomena ini telah menarik perhatian beberapa pakar komunikasi, namun salah satu area yang bisa menarik perhatian adalah presentasi diri. Berawal dengan pemikiran bahwa manusia adalah aktor dalam panggung kehidupan ini, maka tentulah apa yang ditampilkan di panggung akan berdasarkan penataan. Seiring dengan perkembangan medium, setiap individu (menjdai pengguna) akan memasuki presentasi diri yang termediasi. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini berada pada konteks media sosial. Sekilas terlihat bahwa kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter, Blog dan LinkedIn memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap individu (user) untuk berkreasi, khususnya dalam menampilkan diri masing-masing.

Bagi pengguna media sosial, memperbaharui status, membuat tweet, menulis wall sudah bukan barang yang baru lagi. Apalagi dengan memodifikasi prof dengan berbagai macan foto maupun gambar. Aktivitas ini bisa dikatakan sebagai aktivitas penataan tampilan diri. Diana setiap orang memiliki langkah-langkah khusus untuk menampilkan dirinya kepada orang lain atau khalayak.  Langkah-langkah khusus ini tentunya akan sangat bervariasi jika melihat sepintas kepada akun-akun media sosial setiap individu. Ada berbagai jenis penampilan diri yang bisa terlihat secara kasa mata yaitu menuliskan kata-kata bijak di status maupun tweets, menyampaikan kritik, mengkomunikasikan kondisi pribadi saat ini, menyampaikan aktivitas dan lokasi saat ini, dan berbagai cara lainnya. Selain kata-kata, presentasi diri juga dikombinasikan dengan video, gambar dan foto seperti foto-foto diberbagai lokasi, foto bersama figur publik: seperti pejabat negara, pakar atau ahli, aktor/aktris, dll, foto hasil karya sendiri. Berbagai jenis ekspresi yang dilakukan oleh pengguna media sosial akan mengerucut pada jenis-jenis strategi presentasi diri.

Dengan demikian, pada bagian ini akan membahas mengenai peran media sosial bagi pengguna untuk melakukan presentasi diri. Selain itu, tulisan ini juga memaparkan strategi-strategi pada umunya yang dipakai untuk melakukan presentasi diri.

 

Pembahasan

Media Sosial

Sesuai dengan namanya, media yang tergolong dalam media sosial ini memiliki fungsi untuk mendukung interaksi sosial penggunanya. Dalam konteks ini, media sosial bisa bisa digunakan untuk mempertahankan/mengembangkan relasi atau interaksi sosial yang sudah ada dan bisa digunakan untuk mendapatkan teman-teman yang baru. Menurut Van Dijk (2006:31), mengutip apa yang dilakukan oleh Stanley Milgram, rata-rata setiap elemen dalam sebuah unit akan saling berkaitan dengan menurut Six degress of separation, yang menyatakan bahwa manusia lain dengan paling banyak enam orang yang saling berkaitan.

Sejak kemunculan classmates.com dan sixdegrees.com di pertengahan tahun 1990-1n, maka berbagai jenis media sosial mulai bermunculan dan bahkan sudah spesifik ke bidang-bidang tertentu. Hal ini terlihat dengan adanya media semacam facebook, twitter, Linkin (mengkhususkan untuk bisnis dan profesional), devianART (mengkhususkan untuk digital art), Ayn dan CouchSurfing (travelling), flickr (berbagi foto), dan beberapa lainnya. dengan adanya perkembangan yang pesat ini, pengguna mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memaksimalkan tujuan berinteraksi sosial ataupun melakukan pengembangan dirinya.

Media sosial pun merambah sampai pada alat untuk menggerakkan massa. Masih terlintas bagaimana gerakan satu juta facebookers dan gerakan mengumpulkan koin yang berhasil membuat massa melakukan tindakan kolektif. Begitu pula dengan adanya komunitas-komunitas yang dibentuk di dalam media sosial, yang baik komunitas yang telah ada maupun komunitas yang terbentuk khusus karena adanya pertemuan di dunia maya.

Kehadiran media sosial membuat setiap orang berpotensi untuk menjadi komunikator massa. Setiap individu berpotensi untuk menyampaikan berbagai kejadian di belahan bumi tanpa harus membawa beritanya ke meja redaktur atau editor. Simak saja kejadian yang terjadi di Moldova atau pun di Iran. Begitu pula kejadian disekitar kita seperti jalanan macet, adanya peristiwa tidak terduga, dan berbagai kejadian lainnya. Seakan-akan, media sosial hadir untuk melengkapi atau melindungi media massa yang sekarang beroperasi.

Media sosial bisa dipakai untuk menunjang aktivitas rutin pengguna atau aktivitas lainnya. Beberapa perusahaan atau individu menggunakan media sosial untuk melancarkan aktivitas bisnisnya. Untuk media sosial yang berbasiskan bakat dan minat, media sosial bisa dipakai sebagai wadah untuk saling berbagi karya dan memberi masukan. Terkait dengan presentasi diri, media sosial tertentu mewajibkan setiap pengguna untuk memiliki akun. Akan tetapi, konstruksi profil akun setiap orang akan menyesuaikan dengan cara orang tersebut mempresentasikan dirinya. Cara mempresentasikan diri sesuai yang diinginkan oleh setiap orang bisa difasilitasi dengan leluasa oleh media sosial.

Salah satu yang menarik dari media sosial adalah sesama pengguna akan memiliki konstruksi identitas masing-masing. Bagi sesama pengguna yang belum saling mengenal Atau belum berteman di dunia nyata, mereka akan saling membayangkan profil berdasarkan elemen-elemen yang ada di akun masing-masing. Sementara untuk sesama pengguna yang sudah saling mengenal, proses melakukan imajinasi terhadap pengguna yang lain sudah tidak berada lagi pada level ‘sapa dia’ tetapi pada level ‘sedang apa’. Misalkan jika dua orang teman sekelas yang sudah saling mengenal, maka dalam media sosial mereka lebih memfokuskan komunikasi pada sedang melakukan apa atau apa yang sedang terjadi pada dirinya.

 

Presentasi Diri

Pada dasarnya, setiap orang meliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Dalam karyanya berjudul The Presentation of Self in Everyday Life, Eving Goffman (1959) menyatakan bahwa individu, disebut aktor, mempresentasikan dirinya secara verbal maupun nun-verbal kepada orang lain yang berinteraksi dengannya. Presentasi diri atau sering juga disebut manajemen inspirasi (impression Management) merupakan sebuah tindakan menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai sebuah citra diri yang diharapkan. Presentasi diri yang dilakukan ini bisa dilakukan oleh individu atau bisa juga dilakukan oleh kelompok individu/tim/organisasi (Boyer dik,2006:4).

Seorang kameraman yang handal akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengambil gambar dengan angel terbaik, momen yang tepat, dan kualitas gambar yang baik untuk menjaga kompetensinya.seorang yang bekerja di bidang Public Relations akan berupaya untuk sebaik mungkin untuk mempresentasikan dirinya sesuai dengan budaya perusahaannya. Untuk menjadi teman yang baik, seseorang akan berupaya untuk berusaha mempresentasikan dirinya sesuai dengan cara yang sesuai dengan harapan teman-temannya. Untuk menjamin kompetensinya, seorang fotografer akan berupaya untuk penampilan karya-karya terbaiknya kepada orang lain. Dengan berbagai tujuan, setiap individu akan berupaya untuk mengkonstruksi dirinya dengan cara yang sesuai dengan karakteristiknya.

Jika presentasi diri ini dibawa dalam kehidupan virtual, dalam hal ini di Word Wide Web, maka terbentuklah sebuah identitas virtual (virtual identik). Identitas virtual yang terbentuk bisa sangat bervariatif. Bahkan, format teknologi Web 2.0 dan kemajuan media baru membuat identitas virtual merupakan sebuah proses yang terus menerus selayaknya proses yang terjadi di dunia nyata (Lister dik, 2009:269). Identitas juga menjadi salah satu fokus dari Haraway (1991) mengenai perpaduan antara manusia dengan teknologi yang tergambarkan dalam cyborg. Selain itu, identitas juga bisa maupun komunitas (Turkle, 1997).

Presentasi diri yang terjadi di dalam net media akan berbeda-berbeda berdasrkan jenis mediumnya. Jika medium tersebut adalah homepage pribadi, maka presentasi diri akan terjadi lebih konstan dan tetap. Hal disebabkan frekuensi untuk melakukan perubahan-perubahan di dalam medium tersebut tidak terlalu tinggi. Kondisi yang berbeda muncul ketika mediumnya adalah twitter, microblog. Pengguna twitter mempresentasikan dirinya melalui biografi singkat dan tweets. Tweets merupakan salah satu cara yang paling dominan di dalam twitter untuk mempresentasikan diri. Sementara tweets ini, yang bersifat dinamis dan interaktif, mengalami perubahan yang sangat cepat dari waktu ke waktu. Sehingga, medium seperti twitter membuat presentasi diri berlangsung lebih dinamis (Marwick & Boyd, 2010:2-3).

Iklan

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s