Jurnal Edukasi

Redesain Liberal Arts

 

‘’Mengkaji Sejarah Manusia Intelektual’’

Secara ideal pendidikan merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan potensi manusia menuju kedewasaan. Pendidikan bukan sekedar upaya untuk mempersiapkan individu untuk kerja. Namun, sebagai bekal individu dengan wawan holistik. Cita-cita mulia pendidikan adalah membentuk manusia ke pribadi mandiri. Mandiri dalam arti sumber daya manusia yang tetap hidup dengan skillnya. Karena skill akan membawa manusia lebih berkembang dimedan apapun dan kapanpun. Masyarakat Indonesia mayoritas kurang mengembangkan skillnya hal itulah yang menyebabkan masyarakat Indonesia kebanyakan bekerja dengan mengandalkan otot dari pada otak.

Indonesia belum mengenal paradigma pendidikan humanis, Indonesia lebih kepenekanan pada pendidikan vokasional yang linear. Lebih dari 31,02 juta jiwa atau 13,33% penduduk Indonesia tergolong miskin. Padahal, Indonesia merupakan negara yang notabenenya adalah pemilik modal Sumber Daya Alam (SDA).

Kekhasan negara kita sebagai negara multikultural pada dasarnya akan memberikan kearifan lokal yang memandu untuk jalan hidup masyarakatnya. Namun hal itu tidak pernah tercapai. Karena sistem pendidikan di Indonesia cenderung kepada mencetak anak didik ke arah siap kerja yang dibekali dengan teknik-teknik dilapangan. Sehingga bagi mereka yang tidak mempunyai kesempatan dilapangan akan menjadi pengangguran. Dan realitanya, lebih dari 750.00 sarjan dan diploma di Indonesia adalah pengangguran. Seharusnya pendidikan di Indonesia menganut metode kurikulum liberal arts atau metode pendidikan dialegtis yaitu murid bebas berfikir dan bebas mengembangkan kemampuannya sendiri dalam bidang apapun serta mendapatkan media yang mendukung untuk bakatnya tersebut. Sehingga dengan demikian anak didik akan mampu berkembang. Dan bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri khususnya dan bagi masyarakat sekitar pada umumnya.

kalau kita kaji mengenai metode kurikulum yang sudah pernah diterapkan di Indonesia. Seperti CBSA, KBK, dan KTSP. Ketiga metode tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda yaitu anak didik tetap diarahkan ke arah teknik lapangan yang siap kerja. Secara hakiki pendidikan berarti mengembalikan manusia ke status seutuhnya. yang secara sempit di implementasikan oleh banyak negara menjadi sistem yang namanya sekolah. Realitanya sekolah hanya merupakan kata yang rumit dan bukan hanya sekedar bentuk implementasi dari kata pendidikan tetapi juga merupakan legitimasi kekuasaan dari para penguasa negeri.

 

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s