Stalin, Pelopor Komunisme

Stalin, pelopor sekaligus penggerak komunisme di Uni Soviet. Stalin berhasil menerapkan dan mengembangkan komunisme setelah Ia menjadi pemimpin Uni Soviet menggantikan Lenin. Secara pemikiran dan tindakan, Stalin memang lebih maju dan lebih berani daripada Marx ataupun Lenin. Walaupun pada dasarnya pemikiran Stalin juga berangkat dari pemikiran Marx dan Lenin. Keberanian Stalin terlihat ketika Stalin sebagai pelopor terjadinya sosialisme di dunia dan juga menyetujui Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk melakukan pemberontakan pada pemerintahan Belanda yang sebenarnya ditentang oleh Tan Malaka karena dianggap kurang matangnya perencanaan pemberontakan itu.

Keberadaaan PKI di Indonesia ketika itu pada sisi lain memberikan keuntungan, yaitu untuk mencegah masuknya aliran barat. Selain itu, keberadaan PKI di Indonesia juga menggegerkan rakyat Indonesia karena doktrin PKI yang dibarengi dengan pemberontakan terhadap rakyat yang menolak bergabung PKI. Peranan komunis di Indonesia saat itu memang sangat vital sebagai tombak pemberontakan terhadap penjajah. Namun, lambat laun PKI terus mendoktrin rakyat Indonesia. Sehingga, kemudian komunis dilarang berada di Indonesia.

Doktrin komunisme bukan hanya terjadi di Indonesia, akan tetapi seluruh dunia termasuk juga di Uni Soviet yang berada dibawah kepemimpinan Joseph Stalin. ketika itu Stalin menggunakan kekuasaanya untuk membuat undang-undang dengan memutuskan ideologi negara Uni Soviet adalah komunis dengan mahzab Marxist-Leninisme. Mengapa demikian, karena Lenin adalah operasional dari pembentukan komunisme di Uni Soviet yang pertama. Lenin menggunakan ide pemikiran Karl Marx tentang masyarakat sosialis yang menekankan problematika tatanan sosial. Kemudian Lenin menerapkan pemikiranya tentang suatu konsep masyarakat baru yang bercirikan masyarakat tanpa kelas, tidak mengenal hubungan milik pribadi atas alat produksi yang dikuasi oleh negara. Dengan mengkonsolidasikan dan fungsionaliasi pemikiran Karl Marx dan pemikiran Lenin sendiri, kemudai Lenin coba melakukan rusiafikasi dengan membentuk konsep yang melahirkan ide Marxisme-Leninisme (komunisme versi rusia). Oleh Stalinlah kemudian ideologi komunis Uni Soviet diterapkan dengan menganut mahzab dari Marxisme-Leninisme. Yang mencirikan dari komunisme di Uni Soviet adalah dengan menggunakan buruh sebagai ujung tombak dari perjuang komunisme. Walaupun demikian, bukan berarti Stalin sepakat dengan Marx  tentang hilangnya negara ketika masyarakat komunis telah tercapai. Alasannya adalah karena Uni Soviet justru dikepung oleh negara-negara kapitalis, sehingga negara justru perlu membangun pertahanan menjadi lebih kuat dan bukannya hilang.

Stalin juga memperkenalkan model perencanaan lima tahun. Model ini dirancang untuk menjadikan Uni Soviet sebagai kekuatan industri dan militer. Hal ini yang kemudian dianggap oleh sebagian masyarakat Indonesia (beberapa sumber; sejarah Stalin) ditiru oleh Soeharto yaitu sebagai Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan hal itu dianggap sebuah ironi, karena Soeharto mengambil contoh justru dari sebuah negara komunis, yang ideologinya sendiri dilarang untuk beredar di Indonesia semenjak masanya. Namun, perlu saya perjelas tentang hal itu, bahwa Indonesia menganut ideologi pancasila yang makna inti dari pancasila adalah mengambil yang baik dan mengabaikan yang buruk. Jadi, tindakan Soeharto mengadobsi kebijakan, sakali lagi, kebijakan, bukan ideologi Stalin dengan komunismenya adalah tindakan yang tepat untuk kemajuan Indonesia.

Komunis memang menduduki beberapa negara di belahan dunia. Namun, Uni Soviet di bawah tangan Stalin dengan ideologi komunis yang diterapkan bukan berarti rakyatnya mencapai kemakmuran. Justru banyak dari kelompok-kelompok rakyat yang mati dan disiksa oleh agen Stalin. Seperti Trotsky yang harus dibuang oleh orang suruhan Stalin ke Alma Ata, lalu diasingkan ke luar negeri. Trotsky menentang Stalin karena menganggap Stalin hanya berjalan ditempat dan hanya memperkuat benteng pertahanan Uni Soviet dan tidak menumbangkan kapitalisme di negara lain.

Leon Trotsky mengemukakan agar supaya revolusi yang diadakan di Uni-Soviet diteruskan ke negeri-negeri lain, dijadikan satu revolusi Internasional. “Kita punya revolusi haruslah suatu revolusi permanen, revolusi yang terus-menerus dan memusatkan perhatian kepada revolusi terus-menerus itu…..terus gempur, gempur di segala lapangan, di segala hari, di segala negeri, revolusi sosialis adalah satu revolusi permanen, kalau sosialisme hendak dicapai,”

Pernyataan Trotsky yang seolah meremehkan kepemimpinan Stalin menjadikan bentrok antara kedua paham komunis Uni Soviet yang berujung dengan pembuangan Trotsky ke luar negeri dan kemudian dibunuh oleh orang suruhan Stalin. Dengan terbunuhnya Trotsky, Uni Soviet menjadi negara yang hanya memperkuat benteng di dalam lingkungan pagar besi. Melalui fase-fase pembersihan, penangkapan, pembredelan, dan pembunuhan rakyatnya sendiri yang mentang Stalin. Walaupun idelogi komunis adalah ciri dari perjuangan nasionalime Uni Soviet untuk mewujudkan suatu cita-cita yang utopis. Namun dengan ke diktatoran Stalin, idelogi komunisme hanya mampu bertahan selama 70 tahun, dan pada akhirnya ideologi ini menjadi ideologi yang terkalahkan.

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s