CAROK DAN KERAPAN SAPI SEBAGAI IDENTITAS KERAS ORANG MADURA

Carok adalah cara berkelahi satu lawan satu dengan menggunakan senjata tajam (celurit), dengan latar belakang pembelaan diri ketika harga diri diinjak-injak oleh orang lain yang menyangkut masalah harta, tahta dan wanita. Yang pada intinya demi kehormatan. Istilah carok dikenal sebagai identitas madura. Dikarenakan cara penyelesaian masalah orang-orang Madura adalah dengan cara kekerasan atau carok. Inilah yang kemudian banyak orang diluar Madura beranggapan bahwa setiap watak orang Madura adalah keras. Anggapan ini tentu bukan hanya dari tradisi carok yang sering dilakukan masyarakat Madura. Tetapi juga bisa dilihat dari tradisi kerapan sapi, yang pada dasarnya merupakan suatu tradisi ketika menjelang musim panen hingga pasca musim panen, dengan cara mengarak sapi-sapi secara bersamaan dan berpasang-pasangan disawah yang sudah panen. Namun lambat laun tradisi ini lebih sering dilakukan walaupun tidak pada waktunya (musim panen). Hingga kemudian tradisi ini tidak lagi sesuai dengan tujuan awalnya. Dan lama kelamaan dari generasi kegenerasi tradisi ini terus dilakukan dan terus mengalami perkembangan, bahkan semakin melenceng dari nilai-nilai awal kerapan sapi yang dilakukan. Keduanya kemudian menjadi suatu hal yang tak bisa lepas dari masyarakat madura. Hingga menjadi produk pariwisata budaya Madura.

Kebudayaan memang merupakan modal dasar dalam pembangunan pariwisata. Untuk itulah konsep pariwisata yang berlandaskan budaya menjadi dasar setiap pengembangan kepariwisataan. Seperti kebudayaan-kebudayaan yang ada di Bali. Misalnya, tari kecak yang merupakan kreasi seorang penari kenamaan Bali, I Wayan Limbak, dan seorang pelukis berkebangsaan Jerman, Walter Spies. Yang pada awalnya keduanya terpesona oleh tari-tarian dalam ritual Sanghyang yang para penarinya menari dalam kondisi kemasukan roh (kesurupan). Ritual Sanghyang sendiri merupakan ritual masyarakat Bali yang bersumber dari tradisi pra-Hindu dengan tujuan untuk menolak bala (bahaya). Ritual ini kemudian diadopsi oleh I Wayan Limbak dan Walter Spies menjadi sebuah seni pertunjukan untuk umum untuk ditampilkan di berbagai negara di Eropa dengan nama Tari Kecak. Hingga pada akhirnya tarian ini membawa nilai pariwisata kebudayaan Bali dimasyarakat global.

Hal ini tentu berbeda jauh dengan produk pariwisata budaya yang mengidentitaskan Madura, yaitu carok dan kerapan sapi. Yang selalu identik dengan kekerasan, sehingga pandangan publik tentang madura adalah sosok dan watak yang keras. Tanpa disadari masyarakat Madura telah membawa budaya kekerasannya keluar dari pulau Madura. Memalui program transmigrasi dari pemerintah, masyarakat Madura berpencar keberbagai wilayah di Indonesia. Diperantauan, masyarakat Madura pada umumnya kurang disukai karena cenderung berperilaku kasar. Hal itu yang kemudian menjadi stereotipe dan menyempitkan pandangan masyarakat umum terhadap orang madura.

Dalam sebuah penelitian tentang stereotipe etnis di Indonesia,Profesor Mien Ahmad Rifai  mengatakan, “stereotipe manusia Madura cepat tersinggung, pemarah, suka berkelahi, dan beringas”. Masyarakat Madura juga dipandang suka pamer kemegahan dan sering berlebihan dalam berpenampilan.

Ironisnya, ketika pengetahuan tentang masyarakat Madura meningkat, stereotipe semacam ini masih tetap bertahan. Profesor Mien Ahmad Rifai  menggarisbawahi, bahwa citra negatif orang Madura ini malah sering diperburuk sendiri oleh sejumlah orang Madura yang kurang berpendidikan dengan cara lebih menonjolkan kenegatifannya secara sengaja dengan maksud menakut-nakuti orang lain demi tujuan yang tak terpuji. Hal inilah yang kemudian membuat sebagian dari remaja Madura yang memang memiliki watak halus cenderung menyembunyikan identitasnya sebagai orang Madura, karena takut tidak diterima dilingkungan perantauannya.

Hal ini merupakan dampak dari stereotipe budaya carok dan kerapan sapi, yang masyarakat umum ketahui. Sebenarnya banyak sekali budaya dan lokasi-lokasi di Madura yang berpotensi untuk dijadikan pariwisata, atau bahkan sudah ada lokasi-lokasi yang dijadikan tempat wisata. Di Madura setidaknya tercatat memiliki 50 potensi pariwisata yang meliputi, wisata religi, wisata alam, wisata sejarah, wisata kuliner, dan juga potensi wisata budaya. Yang secara umum dikenal masyarakat hanyalah carok dan kerapan sapi.

Sebenarnya masih banyak potensi pariwisata budaya. Misalnya, Sandur (Tari), Saronin (musik tradisional Madura) dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun pengelolaan dan sosialisasinya masih sangat minim. Pemerintah sebagai fasilitator, penggerak pelestarian dan keseimbangan daerah yang berpotensi untuk menjadi pariwisata dan budaya, seharusnya memiliki keseriusan dalam pengelolaan. Misalnya, sosialisasi, eksplorasi dan juga sarana dan prasarana yang harus memadai. Masyarakat juga memiliki peranan penting dalam melestarikan budaya yang ada di Madura sehingga menjadi suatu magnet untuk menarik wisatawan. Dalam pengelolaan lokasi wisata,  pemerintah dan masyarakat harus menyamakan persepsi dan ada kerjasama yang baik agar tidak terjadi perputaran pengelolaan yang pada akhirnya menyebabkan lokasi wisata terbengkalai. Misalnya pantai lombang di Sumenep, yang terjadi sengketa  pengelolaan lahan, antara pihak pemerintah dan masyarakat setempat. Yang menyebabkan kondisi pantai lombang semakin tidak terawat. Konflik pengelolaan lahan antara pemerintah dan masyarakat memang sangat disayangkan. Hal ini butuh kesadaran masyarakat dan pemerintah sehingga lokasi pariwisata bisa tetap terjaga kelestariannya dan juga dapat menarik wisatawan. Kesadaran masyarakat Madura memang sangat kurang untuk melestarikan lokasi-lokasi wisata, padahal dengan pariwisata dapat mengenalkan daerah Madura yang juga memiliki keindahan-keindahan alam yang tidak kalah menariknya dengan tempat-tempat wisata daerah lain. Selain itu pengelolaan pariwisa juga dapat menambah APBD.

Iklan

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s