Opini

“Ayam” Masuk Kampus

Menurut definisisnya, Sex adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin, atau hal-hal yang berhubungan dengan hubungan intim antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan mencapai orgasme. Pada dasarnya tujuan sex memang berbeda-beda. Namun, ada yang mengatakan sex adalah suatu kebutuhan jasmaniah yang manusiawi. Pernyataan ini tentu beriringan dengan pertumbuhan usia seseorang. Karena tumbuhnya kematangan seksual umumnya dimulai ketika masa remaja atau masa pubertas.

Masa remaja umumnya terjadi pada kisaran umur 17 tahun, dimana dorongan seksual dari kematangan organnya semakin memuncak. Pada masa-masa ini, remaja cenderung  mencari pasangan hidup (pasangan sex) untuk menyalurkan hasratnya. Tidak jarang remaja sekarang memanfaatkan masa jenjang pendidikannya – sekolah atau pun kampus – untuk mencari pasangan hidupnya. Bahkan ada yang menjadikan sex menjadi sebuah lifestyle. Dan yang paling parah adalah sex menjadi sebuah profesi.

Kehidupan kaum terpelajar dikampus-kampus  mengalami disorientasi dalam setiap praktiknya. Kampus yang dikenal sebagai tempat para akademisi dan aktivis, kini menjadi sarana bagi para remaja, khususnya putri, untuk menjalani provesi ganda, atau kita sebut sebagai “ayam kampus.” Umumnya para ayam kampus tidak merasa malu kepada teman-temannya, karena dikalangan mahasiswa/i, sudah tidak lagi mensakralkan seks dalam ritus ranjang pengantin.

Ada beberapa alasan untuk mereka menjalani profesi sebagai Ayam Kampus. Diantaranya adalah tingginya dorongan libido dan bingung mencari pelampiasan untuk menyalurkannya. Disamping itu,  tingginya kebutuhan para mahasiswi untuk memenuhi tuntutan gaya hidup modern, menjadikan mereka menghalalkan segala cara agar nampak tetap glamour. Juga dengan kesempatan para mahasiswi untuk membantu mendongkrak nilai akademik dengan memanfaatkan rendahnya kualitas moral tenaga pengajar atau dosen.  Saat ini, desakan ekonomi sudah bukan lagi menjadi alasan mereka menjalani profesi sebagai ayam kampus. Meminjam istilah Alinson J. Murray, para ayam kampus yang berangkat dari kesadaran ini disebut sebagai “palacuran rasional.”

Hampir setiap perguruan tinggi baik swasta atau pun negeri, tidak pernah bisa melepaskan diri dari persoalan ayam kampus. Dan yang paling ironi dari itu semua adalah: perguruan tinggi yang berlabelkan islam, juga tidak luput dari persoalan ini. Bukan hanya metropolitan saja yang terkena dampak freesex, daerah terpencil dan terbelakang juga kerap terjadi freesex.

Lingkungan adalah faktor utama yang mendukung dan mempengaruhi realitas ayam kampus. Kita sepenuhnya memahami bila seksualitas adalah persoalan yang paling purba di sepanjang sejarah kemanusiaan. Pelacuran tidak terjadi pada masa kini saja, melainkan sejak dari jaman kolonial pelacuran sudah mendapat tempatnya sendiri. Bahkan pelacuran sudah terjadi sejak jaman nabi. Dan realitas pelacuran dari jaman ke jaman akan terus memperbarui dirinya. Mengemasnya sesuai dengan jaman.

Dengan adanya ayam kampus, siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini? Saya  berasumsi bahwa hal ini adalah termasuk kelalaian dari pihak keamanan setempat. Baik dari tingkat RT hingga aparat kepolisian. Peranan masyarakat yang menyediakan jasa tempat kost dan rumah kontrakan secara bebas juga semakin membuka lebar medan porsitusi.

Kesadaran dari masing-masing pelaku sex memang merupakan jalan untuk mengurangi praktik porstitusi di kampus. Meskipun kita sepenuhnya sadar bila pelacuran tidak akan pernah mati sampai kapan pun. Namun, kesadaran para pelaku praktik porstitusi tidak akan tumbuh bila lingkungan terus mendukung untuk mereka beroprasi. Peranan penting dari semua elemen masyarakat menjadi faktor pendukung tumbuhnya kesadaran ini. Terutama dari pemuka agama yang seharusnya memberikan pencerahan moral kepada setiap manusia. Tentu sangat disayangkan apabila peranan tersebut diabaikan begitu saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan kesadaran seperti ini paling tidak bisa mengurangi dan mencegah generasi selanjutnya terhadap sex bebas.

14 November 2012

Ram Ramdani

 

2 pemikiran pada “Opini

sakalangkong ampon mamper, tinggalkan coment yoo!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s