SEJARAH KARANG TARUNA DESA PALASA-TALANGO

Bismillahirrohmanirrohim…

Pada postingan kali ini saya akan menceritakan awal mula berdirinya Karang Taruna di Desa Palasa Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep. Sebabnya adalah untuk keabadian, harapanya akan menjadi sejarah karena komitmen kami akan terus kokoh menjadikan Karang Taruna sebagai wadah yang dirasa efektif untuk kebersatuan pemuda dan masyarakat desa, keselarasan antara pemuda, masyarakat dengan pemerintah desa. Secara umum tugas dan fungsi serta maksud tujuan dibentuknya Karang Taruna di Indonesia bisa dibrowsing sendiri. Yang jelas penyesuaian keberadaan Karang Taruna dengan lingkungan kita itulah yg terpenting sebagai arah mau dibawa kemana hubungan kita, maksud saya mau diarahkan kemana Karang Taruna itu sendiri.

Kita bisa mengingat dan mencatat bahwa (titik dua) : 

Kelahiran kami Karang Taruna Desa Palasa adalah 09 November tahun dua ribu anambelas (2016).

Kemudian, dengan bangga kami mengenalkan Karang Taruna Desa Palasa dengan nama KARANG TARUNA RESTU BUMI. Nama tentulah tidak sebatas nama beradab pada bumi yang kita pijak dengan segala sumber manfaat yang beragam baik dari alamnya, airnya serta pepohonan rindang meneduhkan dengan udara segar yang terkadang lepas dari ingatan untuk disyukuri. Dari itulah nama kami terlahir sebagai penegak kelupaan bahwasanya manusia harus bersahat dengan semua aspek di bumi ini dengan memahami, menjaga dan melestarikan. Karena dengan ini bumi yang kita pijak akan merestui segala tingkah laku kita semaga manusia yang arif. Dengan restu bumi kita bisa mengolah kandungannya secara arif tanpa sedikitpun merugikan siapa-siapa, semoga Allah-lah yang membimbing kita.

Kami bernama, tentulah kami juga terlahir. Filosofi akar magrove juga menjadi penguat komitmen besar kami sebagai pioner kebangkitan pemuda Desa. Kami kuat dan kokoh bak akar mangrove yang tahan dari semua terpaan, termasuk kokoh dalam akar pola pikir masing-masing individu.

Sebagai manusia biasa dan juga rakyat jelata yang hidup di desa di sebuah kepulauan tentulah tertanam dalam jiwa kami untuk senantiasa bergotong royong. Hidup bersosial dan aktif dalam segala kegiatan terkadang mengelisahkan hati dan pikiran untuk pergi terpisah dari tanah kelahiran. Nah, sebagai pemuda penerus masa depan keluarga(keluarga desa, pun juga keluarga indonesia) kita harus mampu menggali potensi lokal demi perkembangan tanah sendiri serta peningkatan perekonomian pribadi kita. Bahasa kekiniannya adalah mencegah dan mengurangi urbanisasi, itulah salah satu visi dan misi karang taruna restu bumi.

Dengan rendah hati sebagai pemuda lokal tanpa gelar bermodal keinginan yang besar untuk mengabdi pada tanah kelahiran kami mengenalkan diri sebagai penggagas berdirinya karang taruna; dikala itu malam-malam kami (Yudianto, Ramdani, Riskan, Saifus iip, Dompiyanto dan Anam) bersetubuh ramai ramai hingga selang beberapa pekan lahirlah Karang Taruna dengan Nama KARANG TARUNA RESTU BUMI. Bangganya kami, karena semua pihak dan semua kalangan mendukung dan menyaksikan pengukuhan kami yg secara langsung di tangani oleh Bapak Kepala Desa Bambang Eko Iswanto. 

Iklan

Wisata Pulau Jalan Kesabaran

Potensi wisata Sumenep memang tidak habisnya, untuk kepulauan sumenep memiliki banyak potensi kepulauan. seperti yang sudah buming sekang adalajh pulau gili labak dan gili iyang. gili iyang merupakan pulau dengan jkadar oksigen terasri di indonesia, bahkan nomer 2 di dunia. namun ada satu lagi wisata kepulauan di sumenep yang perlu kita tau dan harus mengunjunginya, ini dia pulau talango.

Tentang Suku Madura

 

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur.

Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa.

Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. padahal orang madura itu adalah orang yang mudah menerima keadaan, berusaha mengalah, dan cenderung berprasangka baik pada orang lain. Hal inilah yang sering melahirkan pemikiran untuk memperdayai dan memanfaatkan keluguan orang madura. sehingga pada akhirnya ketika orang madura berusaha membela diri, emosi dan membalas secara fisik, terlihat seperti suku yang tempramental. hal ini benar-benar dimanfaatkan oleh penjajah Belanda pada jaman dahulu untuk memecah belah persatuan bangsa. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).

Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta,Tanggerang,Depok,Bogor,Bekasi,dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi,Tekonokrat,Biokrat,Mentri atau Pangkat tinggi di dunia militer.

 

Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa angok pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.