Foto Foto Icon Sumenep

Masjid Agung kota Sumenep
Megah, tampak halaman depan masjid Agung atau yang dikenal juga dengan sebutan masjid Jamik yang terletak dipusat kota Simenep,foto ini tampak indah di ambil dari depan taman adipura atau taman bunga kota sumenep yang memang bersebelahan letaknya dari mesjid.
    Pantai Slopeng
pemandangan yang indah pantai Slopeng disore hari,ini adalah sisi sebelah timur pantai slopeng.
pantai slopeng ini merupakan tempat wisata yang sangat indah dan mempunyai kesan tersendiri kepada pengunjungnya sehingga pengunjungpun ketagihan untuk kembali menikmati pantai ini.

      Gerbang Asta Tinggi

suatu penghormatan buat masyrakat sumenep khususnya karena kota di tengah-tengah majunya perekonomian kota sumenep. kota sumenep masih bisa menjaga dan merawat makam-makam raja yang pernah menjabat di kota sumenep.kerena, mereka sang pahlawan yang membela Sumenep pada zaman dahulu.
        Pantai Lombang
Sungguh indah pemandangan pantai ini. yah..inilah pantai Lombang. Pantai yang cukup Istimewa di Sumenep dan pantai ini cukup Populer di pulau Madura. keliling sumenep rasanya tak lengkap bila tidak mampir dipantai yang dirindangi pohon cemara ini, tak jarang wisatawan asing tampak dipantai ini untuk menikmati rindangnya cemarah yang tumbuh dispanjang pesisisr pantai ini. pantai yang diambil dari nama desa dimana pantai itu berada yaitu Lombang ini juga menjadi tempat rekreasi yang muarah meriah bagi masyrakat sumenep, tak jarang para muda mudi tampak di pantai ini.(posting Ram Ramdhani)

        Selamat datang di sumenep

Inilah gerbang memasuki kabupaten kota sumenep

    Pelabuhan Kalianget

Tampak lengang, inilah pemandangan di pelabuhan kalianget. Pelabuhan kalianget ini merupakan pelabuhan terbeser di Sumenep, Pelabuhan inilah yang menghubungkan Antara pulau Madura dan pulau jawa. Selain itu pelabuhan kalianget ini juga yang menghubungkan dengan pulau-pulau lain di Sumenep. seoerti: Talango, Kangean, Raas, Masalembu, Sapudi,Dll.

                  Pulau Kangean

tampak dari atas, seperti inilah pulau kangean yang merupakan salah satu pulau yang masih termasuk lingkup kabupaten kota sumenep
       Kerapan Sapi
yaaah…..Tradisi inilah yang menjadi khas dari pulau Madura, tak ketinggalan juga sumenep. tradisi adu pacu sapi atau yang dikenal dengan Kerapan sapi ini merupakan tradisi tertua di pulau madura. konon tradisisi ini diturunkan oleh nenek moyang Madura. yang pada awalnya melombakan sapi untuk membajak sawah-sawah pada saat itu.

            Kraton Sumenep

Kraton ini merupakan tempat raja-raja sumenep pada zaman dahulu. kini Kraton ini menjadi Museum Kota Sumenep yang juga menjadi tempat wisata yang tak luput dari serbuan wisatan-wisatan yang ingin tau tentang sejarah Sumenep.

               Labeng Misem

Tugu labeng misem ini adalah tanda kerajaan sumenep. Labeng Misem yang berarti Pintu Senyum adalah pintu utama untuk masuk kraton sumenep.
    gerbang Pantai Lombang
ini adalah gerbang Pantai Lombang.Lombang,batang-batang,sumenep.
        Masjid Asta Tinggi
masjid ini merupakan masjid peninggalan raja sumenep yang kini usianya sudah ratusan tahun.
Pintu Masjid Agung Sumenep
seperti inilah kemegahan masjid terbesar dan bersejarah dikota sumenep. masjid ini juga menjadi tempat pertama serbuan wisatawan untuk sejenak beristirahat dan melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
       Petani Garam
pemandangan seperti inilah kadang yang kita jumpai bila kita berkeliling sumenep, ini adalah para petani garam di daerah sumenep
    Pemandian Putri
konon ini adalah tempat pemandian istri-istri raja sumenep pada zaman Dulu. saat ini, ini terdapat di museum kota sumenep.
       Taman Bunga Sumenep
Inilah taman bunga sumenep yang menjadi kebanggaan masyrakat sumenep. taman yang juga dikenal dengan sebutan taman adipura ini juga menjadi alun-alun sumenep karena letaknya yang berada di tengah kota sumenep.
    pantai Slopeng
Pemandangan yang indah, dipesisir pantai slopeng.
Iklan

Sejarah Carok di Madura

LEBIH BAIK PUTIH TULANG DARI PADA PUTIH MATA “lebih baik mati dari pada malu”, slogan orang madura itulah yang mungkin melatar belakangi carok. Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan Hargadiri (kehormatan).

PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak Citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung Harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.

NB: Referensi Babat madura

Taman Adipura/Taman Bunga Sumenep

nilah potret Taman Adipura kota sumenep, disebut juga Taman Bunga.
 
 
 
          Indah, asri nan rindang, itulah suasana tamana adipura kota sumenep, dimana masyarakat kebanyakan menyebutnya dengan sebutan “taman bunga”.letaknya pas ditengah-tengah kota sumenep, bisa dikatakan terletak tepet dijantung kota. Sesuai dengan tata letak perkotaan jaman kerajaan dulu taman ini pas terletak didepan masjid jamik sumenep yang juga merupakan masjid terbesar dan tertua disumenep. Letak taman dan mesjid ini juga searah dengan kraton sumenep yang kini beralih fungsi sebagai museum sumenep. Jika kita feedbac melihat sejarah masyarakat tradisional dimasa kerajaan,dalam melaksanakan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan upacara besar keagamaan ataupun hubungannya dengan kerajaan. Sering kali mereka adakan dilapangan luas yang memang dekat dengan tempat tinggal raja atau keraton . jadi dulunya, taman bunga ini memang terbentuk layaknya rumput dimana pada era tahun 90-an sering kali dijadikan tempat kegiatan-kegiatan masyarakat sumenep seperti misalnya, pagelaran pameran pembangunan dsn lapangan sepak bola serta kegiatan lainnya.
        
           Taman adipura sumenep memiliki beberapa macam jenis tanaman hias yang sengaja tumbuh dan di tanam oleh pemkab kapupaten sumenep, dengan maksud agar menambah kerindangan dan keindahan taman. Taman bunga ini juga serinng di jadikan tempat rekreasi masyarakat setempat, atau sekedar melepas lelah berkendara di sejuknya taman, tak jarang juga pagi dan sore hari disekitar taman ini menjadi tempat untuk olahraga, seperti: jogging, footsal, bahkan latihan pancak silat.

          Seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan juga sebagai pusat kota taman ini semakin difasilitasi oleh pemkab setempat. Hal ini untuk menambah kenyaman para pengunjung taman. Selain taman ini difasilitasi tempat-tempat duduk, taman ini juga difasilitasi dengan pembangunan stand-stand untuk masyarakat yang berjualan diseputaran taman. Masyarakatpun tidak menyiakan hal ini dari stand-stand yang mereka sewa dari pemkab mereka menawarkan beraneka macam barang dagangan, mulai dari beraneka macam makanan dan minuman khas madura sampai ke barang-barang kebutuhan sehari-hari. Jadi jangan heran kalau taman ini sering menjadi serbuan masyarakat setempat diakhir pekan, karena selain mereka bisa jalan-jalan bersama keluarga mereka juga bisa meliha-lihat barang-barang yang tak kalah bagus dari toko mereka juga bisa menikmati aneka kuliner yang berjejer diseputaran taman. Bahkan pengunjung juga bisa memanjakan anak-anaknya dengan beberapa macam permainan yang ada didepan taman, tentu permainan itu tidak Cuma-Cuma, pemainan itu sebenarnya bukan salah satu fasilitas taman tetapi ramainya pengunjung disetiap sore dan malam hari dan minggu pagi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menawarkan sewa berbagai macam permainan. Seperti, Odong-odong, becak mini, sepeda upin-ipin, dll yang tentunya bukan hanya untuk buat anak-anak kecil karena tak jarang orang dewasa juga menikmati permainan itu bahkan pemuda yang dimabuk cinta juga sering nangkring ditaman ini. Tentunya mereka semua memiliki alasan tersendiri untuk menghabiskan waktunya ditaman kebanggaan masyarakat sumenep ini. Semoga dan memang sudah seharusnya taman ini harus terawatt dan terjaga agar anak kita nanti juga bisa menikmatinya.
          

Sejarah keraton Sumenep

      Bangunan megah berdiri dengan nuansa yang khas menyiratkan peninggalan masa silam. Berdiri di kawasan seluas 12 hektar, di tengahnya terdapat Pendopo Agung dengan ornamen khas berlatar bangunan tua yang tak kalah gagah memancarkan kharisma. Sebatang pohon Beringin besar berdiri di samping kirinya, menambah kokoh dan sakral nuansa yang terpancar dari warisan para raja yang dulu pernah berkuasa.
      Walau kini Keraton Sumenep tidak lagi dihuni seorang raja beserta keluarga dan para abdinya. Namun bangunan yang berumur lebih dari 200 tahun itu tetap terjaga. Sumenep setelah berubah secara birokrasi dan mulai dipimpin oleh seorang bupati setelah masa raja Panembahan Notokusumo II (1854-1879) menganggap warisan sisa masa keemasan itu sebagai sebuah kekayaan sejarah yang tak ternilai harganya.
      Bangunan-bangunan di kawasan keraton sudah tidak ditempati lagi. Kecuali pada bagian belakang, menghadap ke Utara, yang kemudian dibangun rumah dinas bupati, berlawanan dengan keraton. Sementara pendopo kini kerap difungsikan untuk acara rapat-rapat para aparat pemerintahan, hingga pagelaran seni dan budaya setempat.
      Bangunan fisik Keraton Sumenep terbilang masih asli. Hanya bagian lantai yang telah dirubah karena rusak. Semula berlantai marmer kini keramik. Terhadap bangunan keraton sendiri yang usianya lebih dari dua abad pernah dilakukan perbaikan namun hanya pada bagian gentingnya. Selain itu pengecatan tetap dilakukan pada bagian dinding agar tetap kelihatan cerah.
Bangunan utama keraton terdiri dari dua lantai. “Lantai atas merupakan tempat para putri raja yang dipingit selama 40 hari sebelum datangnya hari pernikahan,” papar Moh. Romli, penanggung jawab Museum Keraton Sumenep. Menurut pria 40 tahun ini, bangunan kediaman raja yang terletak di lantai bawah terdapat empat kamar yang masing-masing diperuntukkan untuk kamar pribadi raja, kamar permaisuri, kamar orang tua pria dan orang tua perempuan raja.
       Secara umum gaya arsitektural Keraton Sumenep merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa, Arab, dan China. Gaya Eropa tampak pada pilar-pilar dan lekuk ornamennya. Sedangkan gaya China bisa dilihat pada ukiran-ukiran yang menghiasi. Detil ukiran bergambar Burung Hong, yang konon merupakan lambang kemegahan yang disakralkan oleh bangsa China. Ada pula Naga yang melambangkan keperkasaan, beberapa bergambar bunga Delima yang melambangkan kesuburan. Demikian pula pada pilihan warna Merah dan Hijau.
       Salah seorang arsitek pembangunan keraton bernama Lauw Piango, yang setelah meninggal di kebumikan di sekitar Asta Tinggi (komplek makam raja Sumenep dan keturunannya) adalah pria berkebangsaan China. Bahkan konon yang mengepalai tukang saat pembangunan keraton adalah orang China, bernama Ka Seng An. Nama itu kemudian dijadikan nama desa dimana dia dulunya tinggal, menjadi desa Kasengan.
      Dalam sejarah Sumenep disebutkan keraton tempat kediaman raja sempat berpindah-pindah. Konon pada masa awal yang dipimpin oleh Raja Aria Wiraraja, yang berasal dari Singosari, keraton Sumenep berada di Desa Banasare, Kecamatan Rubaru. lalu keraton juga pernah pindah ke daerah Dungkek pada masa raja Jokotole (1415-1460).
      Beberapa daerah lain juga diindikasi sebagai keraton Sumenep, seperti Tanjung, Keles, Bukabu, Baragung, Kepanjin dan daerah lain sebelum akhirnya menempati lokasi keraton yang masih tersisa sekarang. Di Desa Pajagalan yang merupakan warisan sejak raja, yaitu Panembahan Somala dan enam raja berikutnya.
      Panembahan Somala berinisiatif membangun katemenggungan atau kadipaten ini setelah selesai perang dengan Blambangan, pada tahun 1198 hijriyah. Keraton itu selesai pada tahun 1200 hijriyah atau 1780 masehi. Batas-batas keraton pada jaman dahulu meliputi, sisi Timur adalah Taman Lake’, ini menurut Romli, masih merupakan anak sumber air dari Taman Sare yang berada di sekitar keraton. Sayang, tempat ini sekarang sudah ditutup karena difungsikan sebagai sumber air PDAM Sumenep. Sebelah Utara hingga monumen tembok keraton yang ada di jalan Panglima Sudirman sekarang. Dan sisi Barat hingga bagian belakang Masjid Agung (Jami’) Sumenep sekarang.
        Menurut cerita, sebelum dibangun Masjid Jami’, sudah ada masjid yang dibangun oleh raja Pangeran Anggadipa (1626-1644 M). Letaknya di sebelah Utara keraton. Namanya Masjid Laju, laju dalam bahasa Indonesia berarti Lama. Masjid Jami’ sebelumnya merupakan masjid keraton yang eksklusif untuk raja dan kalangan kerajaan. Tepat di depan masjid terdapat Alun-alun keraton. Sekarang sudah di-redesign menjadi Taman Bunga Kota Sumenep. Sementara batas Selatan hingga di belakang museum.
Pagar keraton yang ada sekarang adalah peninggalan masa R. Tumenggung Aria Prabuwinata. Sebelum diganti dengan bilah besi yang berujung mata tombak itu, pagar keraton berupa tembok tebal setinggi lebih dari dua meter. Hal ini terbukti dari sisa pagar yang hingga kini masih ada di belakang keraton, tepat di depan rumah dinas Bupati sekarang. Sisa pagar itu kini dijaga sebagai Monumen bukti sejarah Keraton Sumenep.
       Bangunan yang dipakai kantor Dinas pariwisata dan Kebudayaan itu sebenarnya bukan bagian dari keraton, dulu dikenal dengan sebutan Gedong Negeri, walau ada di lingkungan Keraton Sumenep. Bangunan bergaya Eropa ini didirikan sekitar tahun 1931, pada jaman pendudukan Belanda di tanah air. Kehadiran gedung tepat di depan keraton itu memang mengganggu kharisma keraton secara keseluruhan. Pandangan kearah Keraton Sumenep menjadi terhalang.
(sumber : sejarah sumenep )

Sejarah singkat kota Sumenep

        Di Luar tempat tinggal raja ada museum tempat menaruh berbagai barang dan assesoris peninggalan kerajaan. Namun yang paling mengagumkan adalah AlQuran tulisan tangan yang dibuat oleh Sultan Abdurrahman sekitar 200 tahun yang lalu, dengan font yang sangat mudah untuk dibaca.

 
       taman sare (taman sari dalam bahasa jawa). Tempat ini dahulu digunakan sebagai tempat pemandian istri – istri Raja. Sekarang menjadi kolam ikan dengan air yang jernih, karena ini adalah lokasi sumber air yang selalu mengalir. Sebelum keluar komplek, saya singgah dulu di atas gapura komplek. Gapura yang bernama labang mesem itu mempunyai ruang santai diatasnya. Saya sempat naik ke atas, dan dari sana, sang raja bisa melihat – lihat pemandangan sekitar, dan tentu saja taman sare.
  

Sodalisme

Terbentuk dari butiran-butiran air mata

Berdiri dari tumpahan darah

Dan, Bersatu dari hati

Mencari truisme yang mengambang  diantara warna hingga spektrum yang tampak di atas sana

Walaupun nobsi mengalahkan sang surya

Dan, menghamburkan bintangnya untuk kegelapan

Kita kan tetap bersama
karena ini adalah Sodalisme bukan Stanza